Saya sangat mencintai keluarga saya. Kami merupakan keluarga lumayan besar dengan berjumlah 7 orang bersama orangtua. Kami dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tua saya. Orang tua saya bekerja tanpa kenal lelah demi menghidupi kami anak-anaknya.
Pekerjaan mereka adalah sebagai pegawai negeri sipil. Ayah bekerja sebaga pegawai di kantor Rumah sakit umum sedangkan ibu bekerja sebagai pegawai di kantor departemen agama. Saya bangga mereka telah membesarkan kami dengan berbagai upaya.
Saya bangga karena ayah dan ibu tidak saja bekerja di kantor tetapi mereka juga berusaha mencari pekerjaan lain seperti bekerja di ladang, jualan dan ibu pernah membuat karya seni seperti menjahit demi mendapatkan uang tambahan. Tanpa mereka saya tidak akan dapat hidup baik seperti sekarang ini. Saya bangga kepada mereka.

“Mama, aku mencintaimu dan mengasihimu. Ketika aku masih kecil dan belum dewasa, aku sudah banyak mengecewakanmu.
Aku belum mengerti tentang susah yang engkau alami. Ma, engkau adalah orang yang tidak akan pernah aku lupakan.
Sakit dan lelah yang engkau rasakan tiada henti, demi kami anak-anakmu dapat hidup lebih baik darimu.
Terima kasih mama”.

Jika mengingat mama, aku sering menangis sendiri. Dia adalah perempuan yang tangguh yang tidak pernah aku lupakan.
Ketika aku sudah menyelesaikan sekolah SMA, dan ingin melanjutkan kuliah di tanah orang, mama yang paling ingin aku peluk selalu. Sebelum saya meninggalkan rumah untuk melanjutkan kuliah.
Aku ingin agar mama bisa membelikan ku sebuah jaket agar aku bisa merasa dekat selalu dengannya.
Mama pun akhirnya membelinya. “Terima kasih, ma. Mama, saat itu aku belum lah dewasa dan mengerti kesusahanmu.
Maaf jika dengan membelikan jaket tersebut, aku sudah menyusahkanmu”.
Kasih mama itu tidak terbatas. Ketika kami anak-anakmu sakit di perantauan, engkau menangis.
Engkau selalu memperhatikan kami, walau jarak diantara kita sangat jauh.
Engkau selalu memperhatikan kami dengan tidak lupa menyediakan bekal obat di perantauan, sehingga ketika kami sakit kami sudah ada obat yang kami perlukan.
“Mama, ajarlah ku agar nanti jika aku kelak menjadi seorang mama, aku ingin menjadi sepertimu.”

“Bapak, aku merindukanmu disetiap aku hendak bepergian.
Aku selalu mengingatmu ketika engkau selalu menghantarkanku ke sekolah.
Pagi-pagi engkau sudah bangun dan bersiap untuk menghantarkan kami anakmu kesekolah masing-masing. Engkau begitu sabar. Walaupun aku sering ketinggalan barang yang aku mau bawa ke sekolah, engkau selalu ingin menghantarkanku lagi ke sekolah. Aku merindukanmu, pak.
Waktu kecil engkau juga selalu menghantarkanku ke gereja. Ingin sekali waktu itu aku bersamamu ketika di gereja.
Ingin kita beribadah selalu bersama-sama.
Ketika engkau menelpon, engkau selalu pertama menanyakan kesehatanku. Engkau sangat khawatir ketika kami anak-anakmu jatuh sakit.
Nasehat dan saranmu agar saya menjaga kesehatan selalu saya ingat.
Pak, terima kasih atas kasih sayangmu kepadaku dan anak-anakmu.
Tetaplah menjadi pemimpin yang baik.”

Aku selalu berdoa agar Tuhan selalu menjaga mereka.
Aku berdoa agar Tuhan selalu memberikan mereka umur panjang.
Aku berdoa agar Tuhan selalu memberikan mereka kekuatan dan kesehatan.
Aku juga berdoa agar mereka semakin dekat kepada Tuhan.
Aku berdoa agar Tuhan memberikan rezeky nya kepada kami.

Ingin aku punya rezeky yang baik, agar aku tidak menyusahkan mereka lagi. Agar bapak dan mamak tidak pusing lagi untuk mencari duit.
Rezeky yang kudapat, ingin aku berikan kepada mereka. Aku belum bisa membalas semua yang mereka telah lakukan dan berikan. Aku ingin berusaha bekerja keras dan memberikan sebagian besar rezekyku kepada mereka, ingin membalas apa yang mereka telah berikan.
Ketika aku punya rumah, aku ingin mereka selalu tinggal bersamaku. Ingin kami hidup bersama-sama terus.
Ingin menjaga mereka seperti mereka telah menjaga saya sampai besar seperti sekarang.

“Pak, Ma, terima kasih ya. Sampai saat ini, pengorbanan kalian sangat berharga dan tiada henti.
Aku sangat mencintai kalian, muach..”